Gelar Seminar Nasional, S1 Jurnalistik Bahas Eksistensi Journalist Data

Aghnia Adzkia, Data Journalist Beritagar.id

 

 

FISIP PAPER (22/04) – Dimasa kini, perkembangan informasi khususnya yang disebar oleh jurnalis adalah hal yang semakin dianggap perlu untuk menunjang kebutuhan berbagai hal. Baik itu dalam urusan politik, sosial, ekonomi maupun banyak hal lainnya. Situasi inilah yang membuat kepentingan atau kebutuhan akan informasi yang akurat disertai data yang bisa dianggap valid menjadi hal yang sangat diperlukan. Sebelumnya pada tahun 1970an muncul istilah “Jurnalis Presisi” untuk menjelaskan sebuah proses pengumpulan data secara ilmiah menggunakan statistik. Data tersebut dianalisis dan dijadikan narasi dalam sebuah artikel berita (Gray, 2012:19). Pada 2000an, terminologi jurnalis data mulai berkembang untuk merujuk proses liputan berita berdasarkan statistik. Data inilah yang kemudian disajikan ke audiens melalui beragam bentuk seperti infografik, gambar, teks, video, peta atau bentuk apa pun yang sesuai dengan narasi data. Data-data yang didapat dari hal inilah sangat memberikan manfaat khususnya bagi orang yang memang memiliki kepentingan akan data tersebut. Bahkan saat ini jurnalis data menjadi bagian yang terbilang penting bagi kebutuhan informasi masyarakat yang mulai melek akan politik “Salah satu hal yang bisa kita ambil dari manfaat jurnalis data ini misalnya untuk kepentingan pemilu. Saat acara debat presiden waktu yang lalu Jokowi banyak menyebutkan data-data. Kita langsung cek data-datanya dan sebar kepublik. Hal ini juga dilakukan oleh media seperti CNN dan Kompas waktu itu,” ujar Aghnia jurnalis Beritagar.id saat diwawancarai setelah mengisi acara seminar nasional jurnalis data yang diadakan oleh program studi S1 Jurnalistik (22/4) di gedung pasca sarjana Fisip Universitas Bengkulu beberapa waktu yang lalu.

Wanita yang menggeluti aktivitas sebagai Jurnalis data di Beritagar.id sejak 2016, dan bekerja profesional pada tahun 2017 ini  berpendapat bahwa dalam praktiknya, jurnalis data yang kini berkembang, sudah melibatkan teknologi tertentu dalam proses analisis dan publikasi karya jurnalistik. Jenis seperti ini banyak bermunculan dalam kanal artikel Lokadata di Beritagar.id. contoh lain yang melibatkan proses investigasi mendalam, misalnya seperti liputan “Panama Pers” dan “Paradise Papers”. Dalam sebuah wawancara pribadinya dengan mantan Head Of  Data di The Guardian, Helena Bengtsson, pengolahan data “Panama Papers” membutuhkan penyimpanan dengan enkripsi khusus dan dalam kapasitas yang besar. Pengolahannya pun melibatkan tim yang tidak sedikit. Peliputan seperti ini, tidak mungkin bisa dilakukan tanpa perkembangan teknologi dan keterampilan dari wartawan yang meliput. Adapun tantangan tersulit dalam pembuatan jurnalis data adalah aksesibilitas data, teknologi dan knowledge. Selain itu, Aghnia juga mengatakan bahwa dia juga pernah salah dalam melakukan penginputan data namun segera merevisi dan memberitahukannya ke publik.

Sumber data yang valid untuk menjadi acuan dalam jurnalis data adalah yang bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS) karena informasi yang diambil dari sana dapat diyakini kebenarannya. Meskipun sebaiknya tidak seratus persen mempercayainya dengan juga melakukan wawancara langsung atau pengecekan data ke daerah-daerah terkait agar informasi yang dibutuhkan semakin valid serta menghindari kemungkinan munculnya data Asal Bapak Senang (ABS) “Kalau dari BPS saya yakin valid karena sudah melalui proses metodologi yang kuat. Data ABS  bisa dibuktikan kalau misal ada data pembanding dari institusi lainnya. Sejauh ini kami menggunakan data yang proses penelitiannya jelas atau metode pengumpulan datanya juga bisa dipertanggungjawabkan, dari kementrian atau lembaga, intitusi riset, Universitas, dan organisasi non profit,” ujar Aghnia.

Sebenarnya perbedaan paling inti dari Jurnalis biasa dengan Jurnalis data adalah dari bagaimana proses hingga akhirnya sebuat berita itu di report. Jika Jurnalis biasa hanya melakukan proses reportase di lapangan atau wawancara dengan narasumber maka Jurnalis data harus bisa menguasai proses mengumpulkan data selain dari wawancara dan mereportasekannya. Selain itu, Beritagar juga sudah menggunakan Robotorial atau Robot journalism Beritagar yang berfungsi untuk mengolah data gempa, cuaca, dan saham yang sudah bisa di-generate. Selain itu, untuk hal yang terkait Human Interest masih dengan cara biasa yakni dikerjakan oleh manusia pada umumnya. Selain dari itu Aghnia mengatakan bahwa sejatinya hal yang paling utama adalah kejelian dalam memahami data yang seharusnya dimiliki oleh setiap jurnalis khususnya dan masyarakat pada umumnya agar tak menyebarkan informasi yang salah dan tak asal bicara sehingga apapun medium yang digunakan untuk menarasikan cerita: teks, video, gambar, infografik, grafik, interaktif, atau bentuk lainnya, tak akan menjadi masalah dimasyarakat. (NL)

author